June 2, 2025

Deep Dive: Behind The Scene Lukisan Aad Mandar

June 2, 2025

Deep Dive: Behind The Scene Lukisan Aad Mandar

Mentri Agama Membeli Lukisan Aad MAndar Sehrga 20 Juta Rupiah

Jakarta — Lukisan “Julang Sulawesi dan Karpet Merah untuk Nilam” karya Aad Mandar terjual Rp 20 juta dalam waktu singkat di acara lelang amal “Ekoteologi dalam Aksi: Green Waqf” di Auditorium H. M. Rasjidi, Kementerian Agama RI, Selasa malam, 22 April 2025. Di balik gemuruh tepuk tangan, sorotan kemudian beralih kepada sosok perupa muda asal Sulawesi Barat yang sengaja meminjam kanvas sebagai panggung advokasi iklim.

Aad Mandar adalah Inisiator Ikatan Keluarga Perupa Sulbar (IKPS) yang memulai kiprahnya di Yogyakarta pada 2015. Ia kembali ke tanah kelahiran dan kemudian membangun Galery Art Studio Alam Karya di Mamuju, dengan meneguhkan semboyan: “Hidupilah karyamu maka karyamu akan menghidupimu.” Bagi Aad kelapa merupakan sumber ilham sekaligus falsafah hidup: setiap bagian bermanfaat, dari akar sampai pelepah. Filosofi kebermanfaatan total itulah yang ia terapkan dalam praktik seni maupun kerja komunitas. Menjadikan seni sarana berbagi makna.

“Apalah artinya kesenian jika terlepas dari derita lingkungan.”

W.S. Rendra
Your Content Goes Here
Julang Sulawesi dan Karpet Merah Untuk Nilam - Aad Mandar

“Julang Sulawesi dan Karpet Merah untuk Nilam” lahir dari keresahan ketika Aad menyaksikan alih fungsi lahan di Sulawesi Barat demi melancarkan komoditas nilam. Ledakan harga nilam di Mamuju beberapa tahun terakhir menciptakan euforia di banyak kalangan masyarakat. Kebun-kebun dan hutan beralih funsi menjadi barisan semak nilam yang menjanjikan rupiah cepat. Kayu-kayu besar dari hutan primer ditebang lalu dibakar untuk memanaskan ketel penyulingan, mempercepat susutnya pohon tua yang menjadi “rumah bertelur” rangkong. Dalam rantai sebab-akibat itu, pasangan Julang yang terkenal setia kian sulit menemukan lubang sarang; sekali pohon rebah, satu generasi burung pun terputus. Burung yang mestinya membumbung di atas kanopi kini hanya tersisa sebagai bayang-bayang di balik kabut asap tungku.

Beberapa Karya Aad Mandar Lainya

Tidak berhenti sampai di situ, tanah bekas nilam turut terdegradasi oleh residu minyak atsiri, yang kemudian membuatnya keras dan enggan ditanami komoditas lain. Hal ini sangat mengkhawatirkan karena petani sendiri terancam oleh volatilitas harga, keuntungan sesaat bisa berbalik jadi kerugian ketika permintaan merosot, meninggalkan lahan kering dan pendapatan rapuh. Situasi genting inilah yang ingin diingatkan oleh Aad, bahwa “wangi” nilam dapat berubah menjadi sunyi hutan dan getir ekonomi apabila tidak diimbangi praktik lestari. “Nilam seolah diberi karpet merah, sementara suara rangkong kian sayup,” jelas Aad dalam wawancara, menggambarkan benturan antara keuntungan sesaat dan kerusakan habitat jangka panjang.

Kesadaran akan eratnya kaitan antara krisis ekologis dan ekspresi kreatif inilah yang membentuk pandangan filosofi Aad tentang peran seniman dalam kelestarian lingkungan. Ia mengutip W. S. Rendra: “Apalah artinya kesenian jika terlepas dari derita lingkungan.” Pesan senada juga ia tegaskan dalam podcast “Bersuara Dispusip” (Episode 8) Dinas Perpustakaan & Arsip Mamuju, “Seni itu bukan sekadar lukisan di dinding. Ia adalah bahasa, ia adalah jembatan aspirasi. Perupa harus menangkap peristiwa dan menjadikannya cermin sosial melalui riset yang mendalam.” Bagi Aad, ekosistem seni rupa Sulawesi Barat mesti sehat dan berkelanjutan, agar ruang diskusi dan narasi alternatif bagi masyarakat terus bertumbuh.

Sumber: Instagram @aad_mandar

Aad menambahkan, keterlibatannya dalam program The Future Is Our Canvas, inisiatif kolektif mostlyharmless, sebagai kesempatan besar: “memberikan peluang seniman berkontribusi pada penebusan dosa manusia terhadap lingkungan dan menajamkan kepekaan membaca kondisi alam di sekitarnya.” Program itu menjadi ruang kolaborasi lintas disiplin yang mengikat seni dengan gerakan keberlanjutan.

Aad Mandar terus menyiapkan kanvas baru, masih berkelindan dengan kisah tanah Sulawesi dan napas hutan yang menipis. Dia yakin karya seni bisa menjadi alarm, jembatan, dan harapan, sekaligus bukti bahwa seni dapat merawat bumi setulus akar kelapa memeluk tanah Mandar.

Profile Aad Mandar