Karya ini adalah refleksi tentang harapan di tengah eksploitasi lingkungan yang terus berlangsung. Melalui lukisan ini, Davied menggambarkan sebuah pohon yang telah ditebang berkali-kali, mencerminkan jejak kehancuran yang terus berulang. Namun, dari setiap luka yang ditinggalkan, tunas kecil tetap tumbuh—menjadi simbol perlawanan, harapan, dan keinginan untuk terus bertahan.
Karya ini merupakan satir terhadap kondisi lingkungan di Indonesia yang kian hari semakin rusak.Alam terus dieksploitasi dengan alasan pembangunan dan kemajuan, namun tidak diberi kesempatan untuk benar-benar pulih.
Lewat karya ini, Davied ingin menyampaikan bahwa perubahan kecil memang dapat memberikan dampak besar, namun jika terus diabaikan dan batas-batas dilanggar, maka kesempatan untuk memperbaiki keadaan akan semakin sulit, terbatas, atau bahkan hilang sama sekali.
Karya ini adalah refleksi tentang harapan di tengah eksploitasi lingkungan yang terus berlangsung. Melalui lukisan ini, Davied menggambarkan sebuah pohon yang telah ditebang berkali-kali, mencerminkan jejak kehancuran yang terus berulang. Namun, dari setiap luka yang ditinggalkan, tunas kecil tetap tumbuh—menjadi simbol perlawanan, harapan, dan keinginan untuk terus bertahan.
Karya ini merupakan satir terhadap kondisi lingkungan di Indonesia yang kian hari semakin rusak.Alam terus dieksploitasi dengan alasan pembangunan dan kemajuan, namun tidak diberi kesempatan untuk benar-benar pulih.
Lewat karya ini, Davied ingin menyampaikan bahwa perubahan kecil memang dapat memberikan dampak besar, namun jika terus diabaikan dan batas-batas dilanggar, maka kesempatan untuk memperbaiki keadaan akan semakin sulit, terbatas, atau bahkan hilang sama sekali.

